SEJARAH HISAB RUKYAT

(Masa Rasulullah, Sahabat, Tabi’in, Masa Pertengahan dan Modern)

oleh: Li’izza Diana Manzil (1600028006)

Pendahuluan

Seputar persoalan hisab dan rukyat dapat disebut sebagai persoalan falak. Penamaan ini berkaitan dengan adanya objek dari persoalan tersebut adalah falak (madar al-nujum). Persoalan ini dapat disebut persoalan astronomi karena dalam ilmu Bumi dan Antariksa (Kosmografi), penentuan persoalan tersebut berkaitan dengan benda-benda langit, sebagian kecil saja dari benda-benda langit yang menjadi objek perhitungan (Izzuddin, 2007: 35).

Hisab berasal dari akar kata ح-س-ب, yang secara etimologi hisab berasal dari bahasa Arab yang berupa fi’il madli hasaba (حسب) artinya perhitungan. Kata hasaba (حسب) senada dengan kata dzann (ظن) artinya menduga, menyangka atau mengira, kata i’tadda (اعتد) artinya memandang atau menganggap dan kata ahsha (احصى) artinya menghitung (Ahmad Warson Munawir, 1997: 261). Dalam bahasa Inggris kata ini disebut Arithmatic yakni ilmu pengetahuan yang membahas tentang seluk beluk perhitungan (Direktorat Jenderal Pembinaan Masyarakat Islam, 2010: 20).

Dalam al-Qur’an kata hisab banyak digunakan untuk menjelaskan hari perhitungan (yaumul hisab). Kata hisab disebutkan dalam al-Quran sebanyak 37 kali yang semuanya berarti perhitungan dan tidak memiliki ambiguitas arti (Tono Saksono, 2007: 120).

Di sisi lain, kata Rukyat berasal dari akar kata ر-ا-ى. Secara etimologi kata rukyat berasal dari bahasa Arab berupa fi’il madli ro’a (راى) yang diubah ke bentuk masdar ru’yatan (رؤية) artinya melihat. Dalam kamus al Munawir (1997: 460) kata ro’a senada dengan kata abshara (ابصر) artinya melihat, kata adroka (ادرك) artinya mengerti dan kata hasiba (حسب) artinya menyangka, menduga, atau mengira. Adapun secara terminologi rukyat merupakan melihat bulan baru pada hari ke-29 dalam bulan Kamariah setelah terbenamnya Matahari sebagai tanda dimulainya awal bulan Kamariah.

Namun bagi umat Islam, terutama dari kalangan dunia pendidikan Islam khususnya Klasik populer dengan istilah persoalan hisab atau persoalan falak. Kemudian yang menjadi subtansi persoalan hisab rukyat sebagaimana lazim disebutkan dalam mabadi al-‘asyrah pada setiap kitab falak, adalah persoalan waktu-waktu ibadah seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan penentuan arah kiblat serta gerhana. Sehingga hisab dan rukyat yang berkembang hingga saat ini menjadi masalah yang penting bagi umat Islam karena berkaitan dengan sah atau tidaknya dalam beribadah.

Makalah ini selanjutnya akan memaparkan perkembangan hisab rukyat mulai masa Rasulullah hingga masa modern saat ini yang akan menandai majunya peradaban Islam dari prekspektif historis.

 

Selengkapnya, DOWNLOAD DI SINI

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here