PROBLEMATIKA KONGRES INTERNASIONAL UNIFIKASI KALENDER HIJRIAH GLOBAL DI TURKI TAHUN 2016

oleh: Li’izza Diana Manzil (1600028006)

 

  1. Pendahuluan

Pemikiran untuk menyatukan sistem penanggalan Islam selalu berkembang sampai dibentuknya suatu seminar Internasional Penyatuan Kalender Hijriah di Istanbul Turki dengan sebutan Uluslararasi Hicri Takvim Birligi Kongresi/ International Hijri Calendr Unity Congress/ مؤتمر توحيد التقويم الهجري الدولي .

Uluslararasi Hicri Takvim Birligi Kongresi adalah sebuah Kongres Internasional Unifikasi Kalender Hijriah yang dilaksanakan oleh Diyanet Isleri Baskanligi (Badan Urusan Keagamaan Turki) bekerja sama dengan Bogazici University Kandilli Observatory and Earthquake Research Institute (Observatorium Kandilli Universitas Bogazici dan Institut Penenlitian Gempa Bumi), European Council For Fatwa and Research (ECFR) yang berkedudukan di Dublin, Irlandia, Islamic Crescents Observation Project (ICOP) yang berkedudukan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab dan International Astronomical Center (Pusat Astronomi Internasional).

Kongres ini dilaksanakan pada hari sabtu-senin, 28-30 Mei 2016 M (21-23 Syakban 1437 H) bertempat di kota Istanbul Turki dan berhasil mendatangkan perwakilan 60 negara Islam yang terdiri dari unsur kementrian agama, instansi pemerintah, ormas, fukaha dan astronom.. Hasil dari diskusi yang dilaksanakan diputuskan ada dua pilihan kalender yang ditawarkan yaitu kalender bizonal dan kalender unifikatif. Setelah melakukan sistem voting, akhirnya konsep kalender unifikatif yang disepakati sebagai kalender hijriah global. Namun hingga saat ini masih terjadi kesimpang siuran dalam penerapan konsep ini mulai dari kajian fikih dan sainsnya. Para ulama, astronom, dan ormas-ormas juga tidak luput dari problematika ini karena ketika pembacaan keputusan pada penutupan acara tidak disebutkan bagaimana dan apa landasan kriteria kalender unifikatif tersebut.[1]

Kaidah perumusan kalender ini terjadi problematika mengenai konsep permulaan hari. Karena salah satu perumusan disebutkan bahwa awal hari dimulai dari tengah malam (pukul 00.00 GMT) bukan waktu ghurub (terbenam Matahari), disisi lain kriteria tinggi dan sudut elongasi 5-8 banyak kalangan yang mempertanyakan landasan filosofis, ilmiah dan syar’inya.[2] Oleh karena itu, untuk pembahasan yang lebih mendalam mengenai problematika unifikasi kalender hijriah global Turki selanjutnya akan disampaikan dalam pembahasan.

[1] Syamsul Anwar, “Muhammadiyah, Kongres Istanbul 2016 dan Kalender Global Hijriah”, disampaikan pada acara pengajian Ramadan PP Muhammadiyah pada tanggal 09-11 Juni 2016 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

[2] http://tarjih.or.id/muktamar-turki-dan-momentum-penyatuan-kalender-di-indonesia/ diakses pada tanggal 10 Oktober 2017 pukul 11:02 WIB

 

Selengkapnya, DOWNLOAD DI SINI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here