MEKANISME KERJA MATEMATIS SUNDIAL

oleh: Riza Afrian Mustaqim (1600028014)

PENDAHULUAN

Siklus harian dan tahunan arah dan panjang bayangan benda, sebuah tugu, tongkkat istiwa, lingga, bencet atau gnomon atau polos, yang dikenai bekas cahaya matahari dapat dipergunakan sebagai indikator waktu matahari yang dipergunakan sehari-hari maupun kalender. Sistem penunjuk waktu dengan indikator bayang-bayang oleh bekas cahaya matahari dinamakan Sundial atau dial. Dalam perspektif sejarah Sundial merupakan bentuk contoh peradaban manusia yang bernafaskan astronomi. Manusia berusaha memahami dan memanfaatkan keteraturan siklus matahari di atas horizon untuk keperluan hidupnya, memeperkaya kultur dan peradabannya.[1]

Dalam perkembangan sejarah teknologi Sundial merupakan instrumen pengamatan yang sudah dikenal manusia sejak zaman Babylonia (antara 2000 – 1000 tahun sebelum Masehi) dan mungkin lebih lama lagi, kemudian berlanjut ke zaman Yunani Kuno (beberapa ratus tahun sebelum Masehi) seperti Thales (600 SM), Meton (430 SM) dan calippos (4 abad SM).[2]

Dalam perkembangannya walaupun sistem penunjuk waktu untuk keperluan sehari-hari dan sistem kalender untuk sistem penunjuk waktu jangka panjang sudah tersedia namun Sundial masih menjadi pembicaraan dalam astronomi dan khalayak luas.[3]

Berdasarkan penjelasan di atas, perlu kiranya untuk dilakukan sebuah kajian mendalam tentang segi klasik Sundial sebagai salah satu alat dalam praktek ilmu falak. Hal tersebut akan dikupas dalam tulisan ini berdasarkan mekanisme kerja Sundial.

[1] Penelitaian Moedji Raharto, “Sindial; Antara Monumen dan Pendidikan”, dalam buku Seminar Sehari Astronomi, Bandung: TP, 1995, h. 127

[2] Penelitaian Moedji Raharto, “Sindial …, h. 127

[3] Penelitaian Moedji Raharto, “Sindial …, h. 128

 

Selengkapnya, DOWNLOAD DI SINI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here