Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag

Peneliti Qodri Azizy Institute Semarang

Pengasuh Pesantren Life Skill Daarun Najaah Semarang

Dosen UIN Walisongo 

 

Bagi kaum muslimin, dalam kapasitasnya sebagai makhluk sosial, Idul Fitri adalah saat yang tepat untuk bersilaturrahim dengan keluarga, kerabat dan sahabat. Maka tidak heran manakala saat-saat Idul Fitri, umumnya kaum muslimin ingin bertemu dan berkumpul dengan keluarga. Sebab saat berkumpul  itu, baik dengan keluarga ataupun kerabat, mereka dapat  menggunakan untuk saling meminta dan memberi maaf. Hal ini dilakukan atas kesadaran bahwa dalam pergaulan sehari-hari setiap orang bisa berbuat khilaf, baik disengaja atau tidak. Karena itu pada hari Idul Fitri kita perlu saling memaafkan, menghilangkan rasa benci dan dendam di antara kita. Yang muda mendatangi yang tua, anak sowan kepada ayah bunda, cucu kepada eyangnya dan seterusnya.

Bukankah manusia sebagai  al-insan mahalul khata’  wa nis-yan (tempat salah dan lupa), cenderung tercemar oleh berbagai salah dan dosa, baik terhadap Allah maupun terhadap sesama manusia. Maka ibadah puasa selama Ramadan yang kita jalani dan amaliah Idul Fitri yang kita syiarkan dengan silaturrahim adalah wujud pengamalan agama untuk menetralisir pencemaran itu.

Puasa yang kita jalani secara tulus akan membantu kita untuk menghapus salah dan dosa yang telah mencemari kepribadian kita sehingga jati diri kita sebagai manusia yang berakhlak mulia akan kita temukan kembali seutuhnya. Kemudian mengingat antara ibadah puasa dan Idul Fitri merupakan mata rantai yang tak terpisahkan, maka salat Idul Fitri yang kita tunaikan selepas berpuasa sebulan penuh ini adalah sebagai saksi bahwa kita telah melakukan kerja keras untuk mengendalikan fitrah kita sebagai manusia. Jadi, kita seusai shalat Id kita syiarkan lebaran ini dengan bersilaturrahim, bertahniah dan saling memaafkan, berarti kita benar-benar menjadi orang yang berjaya dan meraih kemenangan dalam agama. Karena Islam mengajarkan bahwa salah satu perilaku akhlak mulia ialah kesediaan  seseorang untuk menyambung persaudaraan dengan sesama, bersilaturrahim, saling mengunjungi di antara kerabat, tetangga, kolega dan seterusnya, yang selama ini telah menjadi tradisi dan budaya kita dalam mensyiarkan hari raya.

Silaturrahim yang dikehendaki Islam adalah pertemuan antara manusia sebagai pihak yang sejajar, setara yang tidak dibelenggu oleh budaya ewuh pakewuh. Oleh karena itu dalam bersilaturrahim tidak sepantasnya berlaku anggapan bahwa yang berstatus sosial lebih tinggi harus menjadi pihak yang didatangi oleh yang berstatus lebih rendah. Jadi silaturrahim tidak harus terbelenggu oleh atribut-atribut kepangkatan, seperti  antara bawahan dengan atasan, antara buruh dan majikan, antara kuli dengan mandor, antara si kaya dengan si miskin. Pendeknya, silaturrahim harus murni dengan nilai-nilai kemanusiaan yang fitri, tidak malah menjadi ajang mengotak-ngotakan status atau diembel-embeli kepentingan materi duniawi, sehingga tercemar oleh macam-macam hasrat nafsu di luar tujuan murninya.

Jelasnya ialah bahwa hati nurani orang mukmin setelah menjalani puasa dan beridul Fitri, pasti akan lebih mampu menghayati eksistensi dirinya. Ia sadar bahwa manusia pada hakikatnya bukan hanya makhluk pemburu materi, tetapi juga mempunyai kepentingan-kepentingan lain dalam hidupnya yang butuh berhubungan dengan orang lain tanpa ada embel-embel kepentingan materi dan egois. Ia memerlukan hubungan antara sesama yang dilandasi rasa cinta dan kasih sayang. Sehingga ia akan sangat peka terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan bangsanya. Dia sadar betul bahwa manusia tidak mungkin hidup sendiri-sendiri. Kesadaran ini kalau dipupuk terus tentu akan memudahkan terwujudnya ukhuwwah Islamiyyah, bahkan bisa menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas sosial yang tinggi. Bukan saja terhadap saudara-saudaranya seagama tapi juga terhadap yang beragama lain, sesuai dengan misi kedatangan Islam sebagai rahmatan lil’alamin.

Realita vs Sejatinya

Pada hari kemenangan ini kita seolah-olah mengalami kehidupan baru dan suasana baru yang penuh kebahagiaan, diiringi dengan jiwa raga yang bersih, hati yang suci dan semangat yang optimis dalam mengarungi kehidupan di hari-hari yang akan datang. Maka wajar kalau dalam memeriahkan Idul Fitri umat Islam melampiaskan suka cita dan keriangan hatinya di hari yang umumnya dianggap sebagai hari kemenangan itu. Sebagaimana sudah menjadi gejala umum  bahwa tabiat manusia selalu ingin melakukan segala sesuatu secara meriah. Tak terkecuali kaum muslimin untuk merayakan Idul Fitri merekapun cenderung mengadakan acara-acara lebaran yang meriah, bahkan sering terkesan berlebih-lebihan.

Di kalangan masyarakat awam misalnya mereka lebih suka dan memiliki kebanggaan sendiri  bila memeriahkan Idul Fitri sesemarak mungkin. Kecenderungan munculnya kebiasaan seperti itu memang wajar, meskipun memang harus diperhatikan, karena hal itu terkait erat dengan  kodrat manusia yang selalu condong mengikuti hawa nafsunya. Terutama bagi kelompok orang-orang yang tipis imannya, maka hasrat untuk menikmati kesenangan duniawi biasa lebih besar daripada untuk kepentingan kehidupan ukhrawi. Lebih-lebih juga kita maklumi, sekarang ini kita hidup di – masa pancaroba – masa anomi – masa transisi  – di mana manusia pada umumnya sudah tidak takut kepada ancaman dosa dan tidak peduli lagi halal atau haram terhadap perbuatan  dan pekerjaan yang dilakukannya. Bahkan banyak orang yang tega memuaskan kesenangan dirinya dengan kedok kegiatan keagamaan seperti terlihat dalam paket-paket hiburan hari raya.

Barangkali kekeliruan itu akibat seringnya makna Idul Fitri difahami secara tidak tepat, sehingga ia lebih sering diartikan sebagai saat-saat ruhshah  (keringan hukum) untuk berbuat hura-hura, bersenang-senang dan melakukan pemborosan. Padahal idealnya Idul Fitri disediakan untuk pengisian rohani – penyucian diri baik dalam hablum minallah dan hablum minannas. Di mana selama sebulan penuh, kita digodok dalam upaya pembersihan diri dalam hubungannya dengan Allah yang selanjutkan  upaya penyucian diri dalam hubungannya dengan sesama dalam bentuk silaturrahim dan halal bi halal. Sehingga itulah idealnya kita seharusnya beridul Fitri  sesuai dengan namanya Idul Fitri yang berarti kembali dalam kefitrahan – kesucian. Dan setelah itu idealnya Idul Fitri yang merupakan momen kemenangan rohaniah dapat menjadi pondasi dan landasan dalam mengarungi kehidupan baru selanjutnya.  Sehingga sebagai bukti keberhasilan puasa Ramadan satu bulan penuh dan Idul Fitri adalah setelah itu iman dan taqwanya kepada Allah makin meningkat sebagaimana harapan Allah : “la’allakum tattaquun” (supaya kamu semua makin bertaqwa).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here