Dr. H. Ahmad Izzuddin, M.Ag

Ketua Prodi S.2 Ilmu Falak UIN Walisongo

Ketua Umum Asosisasi Dosen Falak Indonesia

            Gerhana matahari total kali ini yakni pada hari Rabu, 9 Maret 2016 besuk sangat istimewa bagi Indonesia, karena tak melewati daratan lainnya selain Indonesia. seakan hanya milik Indonesia karena hanya dataran negara Indonesia yang dilintasi bayangan ini. Terjadi pada 10 provinsi atau tepatnya 11 daerah mulai dari bagian Indonesia Barat hingga Timur. Mulai dari  Palembang, Belitung, Bangka, Sampit Kalimantan, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Poso, Luwuk, Ternate dan Halmahera. Daerah-daerah itulah yang bisa menyaksikan fenomena gerhana matahari total tanggal 9 Maret 2016 mendatang dengan lama gerhana total antara 1 menit 30 detik sampai 3 menitan. Daerah tersebut merupakan daerah yang dilintasi bayangan penuh umbra bulan. Gerhana matahari total yang terjadi pagi hari akan membuat langit menjadi gelap selama beberapa saat. Matahari yang biasanya memancarkan sinar terang maka saat gerhana akan tertutup bulan sehingga korona atau mahkotanya bisa terlihat.  Sebelas daerah itu akan bisa menikmati momen ketika matahari sepenuhnya ditutupi bulan.

Makin menjadi benar-benar total milik Indonesia, gerhana matahari sebagian dengan prosentasi 65 persen sampai 95 persen juga hampir terjadi di seluruh wilayah Indobesia ini. Daerah ini bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian karena tidak dilewati umbra (bayangan inti) bulan tetapi dilewati oleh penumbra (bayangan yang lebih terang) bulan. Warga di daerah tersebut dapat melihat matahari tertutup bulan dengan presentase yang berbeda, ada yang 95 persen hingga 65 persen dengan durasi gerhana yang berbeda-beda. Misalnya di Jakarta dan di Jawa secara umumnya, gerhana matahari akan terjadi sebesar 88,76 persen. Fenomena gerhana di Jakarta dan sekitarnya di Jawa tersebut juga menjadi sangat unik dan menarik, walau tidak merupakan gerhana total tapi gerhana sabit (gerhana sebagian 88.76 persen), namun ini menjadi monumental karena gerhana di Jakarta dan Jawa secara umum, seakan mengulang fenomena gerhana matahari di saat zaman nabi Muhammad melaksanakan syariat shalat gerhana.

Bagaimana bisa demikian ? Sejak shalat gerhana  disyari’atkan setelah 6 tahun 2 bulan semenjak peristiwa Isra’ mikraj nabi, tepatnya saat terjadi gerhana bulan total malam rabu wage 14 Jumadil akhir 4 H. bertepatan dengan 20 November 625 M. Di mana sampai nabi wafat, sudah terjadi 3 kali gerhana matahari dan 5 kali gerhana bulan, namun semasa hidup beliau hanya melakukan shalat gerhana 2 kali saja, 1 kali gerhana bulan dan 1 kali gerhana matahari yakni gerhana bulan total tgl 14 Jumadil Akhir 4 H, bertepatan pada Rabu Wage 20 November 625 M dan pada waktu dua puluh tiga bulan berikutnya yakni tepatnya 29 Syawal 10 H/27 Januari 632 M terjadi gerhana matahari  dengan awal gerhana 07:08:51 WD, puncak gerhana 08:21:04 WD, akhir gerhana 09:45:03 WD, durasi gerhana 2 jam 36 menit 11 detik, dan magnitude gerhana 0,824317767 = 82%. Dari data ini nampak bahwa fenomena gerhana matahari di Jakarta dan Jawa secara umum tetap sangat unik dan menarik untuk hayati, walaupun tidak merupakan fenomena gerhana total sebagaimana di 11 daerah di atas. Karena fenomena gerhana matahari sebagian di Jakarta dan Jawa pada umumnya seakan berada pada  fenomena gerhana matahari masa nabi dan bersama nabi. Oleh karena itu sangatlah beruntung jika kita masyarakat muslimin di Jakarta dan Jawa pada umumnya dapat menggunakan momentum fenomena gerhana ini dengan sebaiknya yakni melaksanakan syariat gerhana dan melakukan pengamatan gerhana matahari dengan baik.

Pengamatan Gerhana Untuk Ibadah

Bagi umat Islam, fenomena gerhana dianggap sebagai tanda kekuasaan dan kebesaran Allah swt. Karenanya bila gerhana terjadi, umat Islam dianjurkan untuk melakukan shalat gerhana, satu-satunya shalat yang dianjurkan atas suatu kejadian alam. Di samping dianjurkan membaca dikir takbir, tahmid, tasbih dan istighfar dan selanjutnya melaksanakan sedekah. Merujuk pada refrensi kitab hokum Islam bahwa disyariatkan shalat gerhana adalah pada saat  terjadi gerhana. Jadi selama waktu terjadinya gerhana. Menurut penulis kalau merujuk pada  maqashidus syariatnya adalah membaca tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, tentunya akan lebih mencapai maqashidus syariat  jika pelaksanaan shalat gerhana setelah melakukan pengamatan gerhana dengan membaca dikir takbir, tahmid, tasbih dan istighfar dengan tujuan agar suasana batin yang tercipta dari melihat kekuasaan dan kebesaran Allah tersebut.

Kemudian terkait pelaksanaan shalat gerhana apakah sebaiknya melantunkan bacaan secara keras (jahr) atau pelan (sirr) ? Menurut para ulama memang terdapat perbedaan ulama, menurut penulis menjadi sangat logis dan penuh arti sesuai maqashidus syariat jika pembacaan dalam shalat adalah dengan bacaan secara keras (jahr), mengingat di antara maqashidus syariat shalat dan amalan bacaan dikir takbir, tahmid, tasbih dan istighfar adalah untuk syiar umat Islam. Oleh karena maqashidus syariat terjadi gerhana adalah membaca kebesaran dan kekuasaan Allah, tentunya ini akan dapat diraih diantaranya dengan pengamatan gerhana. Sehingga menurut penulis sebenarnya dalam syariat gerhana terkandung perlunya pengamatan gerhana.

Namun demikian perlu dicatat, dari informasi analisis pakar kesehatan mata bagi yang ingin melakukan pengamatan gerhana matahari harus menggunakan filter baik itu kacamata khusus gerhana matahari yang sudah dilengkapi filter matahari atau teropong agar retina mata tidak rusak karena terkena sinar matahari langsung. Karena untuk bisa menatap matahari secara langsung, kita harus menyingkirkan setidaknya 99,9968% dari energi yang diterima dari matahari. Angka ini (terutama pada dua digit terakhir itu) jelas bukan angka mistis yang turun dari langit. Besaran itu didapat dari hasil pengukuran yang akurat terhadap energi yang dipancarkan matahari berbanding yang mampu diterima oleh organ retina mata tanpa merusaknya. Ini bisa diperoleh lewat filter khusus untuk pengamatan matahari, yang hanya menyalurkan setidaknya 0,0032% cahaya (filterShade 12). Cara-cara semacam melihat melalui film, pita magnetik, CD, gelas buram, dan sebagainya itu sebenarnya masih belum cukup aman untuk melindungi retina dari kerusakan, sehingga dalam penggunaan alat di atas dianjurkan tidak lama-lama.

Tapi ini bukan berarti kita harus mengurung diri dalam rumah saat terjadi gerhana. Berada di luar rumah pada saat gerhana matahari sama amannya (atau sama berbahayanya) dengan berada di luar rumah pada hari-hari biasa, sepanjang kita tidak menatap langsung ke arah matahari.  Namun pada saat matahari berada dalam fase gerhana total, adalah aman untuk menatap matahari secara langsung (ingat, hanya pada saat fase total!).
Penjelasan ilmiahnya, karena walaupun ukuran (diameter) bulan 400 kali lebih kecil dari matahari, letaknya juga 400 kali lebih dekat. Dengan demikian, saat fase total, ketika bulan tepat berada segaris dengan matahari, ukuran bulan akan tepat sama besar dengan ukuran piringan matahari, dan secara efektif akan menghalangi bagian matahari yang paling terang dari penglihatan. Saat itu kita bisa sejenak meninggalkan peralatan filter untuk menatap pemandangan langka itu.

Oleh karena itu gerhana matahari 2016 baik total maupun sebagian benar-benar total milik Indonesia, semoga benar-benar dapat membawa berkah kepada kita dan bangsa kita. Selamat mengamati gerhana dan ibadah shalat gerhana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here